”HIMATIKA
Mengabdi Jilid X: Berkarya dengan Logika, Menginspirasi Lewat Aksara dan Rasa Himatika
Hadir Untuk Masyarakat di Desa Tanak Beak, Batukliang Utara, Lombok Tengah”
Shofy Fikria Salsabila dan Dina Karunia
Himpunan
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram
Abstract
HIMATIKA
Mengabdi Volume X is a concrete contribution from the Mathematics
Student Association (HIMATIKA) of the University of Mataram to support
community development programs, particularly in the field of education, through
several activities. HIMATIKA Mengabdi Volume X carries the theme "Working
with Logic, Inspiring Through Literacy and Feeling: Himatika is Present for the
Community." The event was held in Batu Keliang District, West Nusa
Tenggara. Tanak Beak Village is one of the villages that remains pristine,
preserving and developing its culture. The HIMATIKA MENGABDI activity is one of
our aspirations to help develop Tanak Beak Village. It will last for five days,
from Tuesday, July 15, 2025, to Saturday, July 19, 2025, and will include
various activities such as Himatika Goes to School (HGTS), the Literacy Park
and Art Studio (TLSS), the TPQ (Q Religious Education Center), and games. The
HIMATIKA MENGABDI Volume X activity is expected to motivate the future
development and sustainability of Tanak Beak Village.
Keywords: HIMATIKA MENGABDI
VOLUME X, Education, Tanak Beak, Development and Sustainability.
Abstrak
HIMATIKA Mengabdi Jilid X merupakan bentuk kontribusi nyata Himpunan Mahasiswa Matematika
(HIMATIKA) Universitas Mataram untuk mendukung program pengembangan masyarakat khususnya
di bidang Pendidikan melalui beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. HIMATIKA
Mengabdi Jilid X mengusung tema “Berkarya dengan Logika, Menginspirasi Lewat Aksara
dan Rasa Himatika Hadir Untuk Masyarakat” kegiatan yang kecamatan Batu Keliang,
Nusa Tenggara Barat, Desa Tanak Beak merupakan salah satu desa yang masih asri dengan
menjaga dan mengembangkan kebudayaan. Kegiatan HIMATIKA MENGABDI merupakan salah
satu aspirasi kami untuk membantu mengembangkan Desa Tanak Beak yang berlangsung
selama 5 hari dari Selasa, 15 Juli 2025 sampai dengan Sabtu, 19 Juli 2025 dan dirangkai
dengan berbagai kegiatan seperti Himatika Goes To School (HGTS), Taman Literasi
dan Sanggar Seni (TLSS), TPQ, dan Games. Kegiatan HIMATIKA MENGABDI JILID X diharapkan
mampu memberikan motivasi untuk pengembangan dan keberlangsungan Desa Tanak
Beak selanjutnya.
Kata kunci: HIMATIKA MENGABDI JILID X, Pendidikan, Tanak Beak,
Pengembangan dan Keberlangsungan.
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu
fondasi penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dan memajukan suatu
wilayah. Perguruan tinggi memegang peran penting dalam mendukung penerapan Tri Dharma
Perguruan Tinggi, terutama dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Program pengabdian
berfungsi tidak hanya sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan
yang didapat di kuliah, tetapi juga sebagai media untuk membangun relasi yang harmonis
antara institusi pendidikan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan perubahan yang
konstruktif dan berkelanjutan.
Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA)
Universitas Mataram melaksanakan kegiatan HIMATIKA Mengabdi setiap tahunnya sebagai
wujud nyata kontribusi dalam bidang pendidikan, sosial, dan budaya. Dalam pelaksanaan
HIMATIKA Mengabdi Jilid X tahun 2025 mengangkat tema “Berkarya dengan Logika, Menginspirasi
Lewat Aksara dan Rasa, HIMATIKA Hadir untuk Masyarakat” tema ini sesuai dengan
tujuan HIMATIKA untuk selalu berkarya
dan mengispirasi disetiap Langkah. Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara,
Lombok Tengah, dipilih sebagai tempat kegiatan karena memiliki potensi budaya dan
lingkungan yang terjaga, namun menghadapi tantangan dalam pengembangan pendidikan,
literasi, serta pemberdayaan ekonomi, hal inilah yang menjadi motivasi HIMATIKA
melakukan pengabdian di desa tanak beak untuk membangun semangat dan
mengispirasi bersama.
Selama lima hari pelaksanaan, HIMATIKA
dalam HIMATIKA mengabdi melakukan berbagai macam kegiatan untuk membantu
Masyarakat di bebagai bidang, rangkaiaan acara kali ini meliputi HIMATIKA Goes To
School (HGTS), Taman Literasi dan Sanggar Seni (TLSS), pengajaran di Taman Pendidikan
Al-Qur’an (TPQ), sosialisasi kepada masyarakat, dan games. Pelaksanaan kegiatan HIMATIKA mengabdi kali
ini untuk meningkatkan kreativitas warga dan semangat belajar anak-anak Desa
Tanak Beak.
Dengan cara partisipatif yang menekankan
peran aktif masyarakat, HIMATIKA Mengabdi Jilid X diharapkan mampu membangkitkan
inovasi lokal yang berkelanjutan. Penggabungan aktivitas pendidikan, budaya, dan
ekonomi dalam satu bentuk pengabdian memberikan sumbangsih yang berarti untuk kemajuan
dan keberlangsungan Desa Tanak Beak di masa mendatang. Oleh karena itu, aktivitas
ini tidak sekadar program tahunan bagi mahasiswa, tetapi merupakan investasi sosial
yang membawa dampak jangka panjang untuk masyarakat.
-TUJUAN
Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan kontribusi nyata
bagi masyarakat Desa Tanak Beak melalui rangkaian kegiatan yang berfokus pada peningkatan
mutu pendidikan dan literasi, pengembangan keterampilan seni, penguatan nilai-nilai
keagamaan, peningkatan kesadaran kesehatan, pelestarian budaya lokal, serta pemberdayaan
ekonomi berbasis potensi desa, dengan mengedepankan pendekatan partisipatif yang
melibatkan masyarakat secara aktif.
BAHAN
DAN METODE
Bahan dan metode pada kegiatan pengabdian masyarakat adalah
elemen krusial yang mendukung pelaksanaan program serta berfungsi sebagai acuan
dalam pengumpulan dan analisis data. Bahan mencakup semua alat, media, dan peralatan
yang dibutuhkan agar aktivitas dapat berlangsung sesuai tujuan, sementara metode
menerangkan pendekatan, langkah-langkah pelaksanaan, serta teknik pengumpulan dan
analisis data yang diterapkan. Pemilihan material dan teknik yang sesuai sangat
berpengaruh pada keberhasilan kegiatan, karena keduanya menentukan efisiensi proses
pelaksanaan dan pencapaian hasil yang diharapkan.
Dalam HIMATIKA Mengabdi
Jilid X di Desa Tanak Beak, alat yang dipakai mencakup bahan edukasi seperti buku
bacaan untuk Taman Literasi, modul pembelajaran matematika dan literasi, media ajar
yang kreatif, serta materi sosialisasi kesehatan dan pencegahan stunting. Dalam
pelatihan budidaya buah naga, digunakan bibit buah naga, media tanam berupa tanah
dan pupuk organik, tiang penyangga, serta alat pertanian sederhana. Seluruh rangkaian
aktivitas juga memerlukan perangkat dokumentasi seperti kamera, alat perekam suara,
dan peralatan untuk mencatat di lapangan.
Metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif
dengan model Participatory Action Research (PAR) yang menekankan partisipasi langsung
masyarakat di setiap tahap kegiatan. Tempat penelitian terletak di Desa Tanak Beak,
Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, dan dilaksanakan selama lima hari, dari
15 hingga 19 Juli 2025. Kegiatan ditujukan untuk siswa SD, siswa TPQ, remaja, ibu-ibu,
serta tokoh masyarakat setempat. Pelaksanaan dimulai dengan persiapan yang meliputi
survei area, berkoordinasi dengan perangkat desa, menyosialisasikan rencana kegiatan,
membagi tugas tim, dan menyiapkan bahan. Tahap selanjutnya ialah pelaksanaan, yang
meliputi HIMATIKA Goes To School (HGTS), Taman Literasi dan Sanggar Seni (TLSS),
pembelajaran di TPQ, sosialisasi mengenai kesehatan, permainan edukatif, Pekan Balang,
serta pelatihan pembibitan buah naga. Langkah terakhir adalah penilaian yang dilakukan
melalui diskusi kelompok dengan masyarakat dan panitia untuk mengevaluasi keberhasilan
kegiatan, menemukan kendala, serta merumuskan strategi keberlanjutan program.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif,
wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi visual dalam bentuk foto dan video.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengkategori hasil temuan berdasarkan
tema kegiatan, lalu diinterpretasikan untuk memahami dampaknya terhadap pendidikan,
kesehatan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi warga Desa Tanak Beak.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan HIMATIKA Mengabdi Jilid X di Desa Tanak
Beak berlangsung selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Juli 2025, dengan rangkaian
kegiatan yang meliputi pembukaan program, HIMATIKA Goes to School (HGTS),
Taman Literasi dan Sanggar Seni (TLSS), pembelajaran di TPQ, sosialisasi pencegahan
pernikahan usia dini, permainan edukatif (games), dan Peken Balang. Seluruh
kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, di mana warga terlibat langsung
sejak tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi, sehingga program ini relevan
dengan kebutuhan dan potensi lokal.
Secara keseluruhan, HIMATIKA Mengabdi Jilid X berhasil
mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, dan budaya dalam satu rangkaian kegiatan
yang saling melengkapi. Pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan karena
memastikan program sesuai kebutuhan warga sekaligus mendorong rasa kepemilikan terhadap
hasil kegiatan. Hal ini sejalan dengan teori bahwa keterlibatan langsung masyarakat
dalam setiap tahap pengabdian mampu meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program.
1. Pembukaan Kegiatan
Pelaksanaan HIMATIKA
Mengabdi Jilid X diawali dengan acara pembukaan di balai pertemuan Desa Tanak
Beak. Acara ini menjadi titik awal seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan
selama lima hari berturut-turut. Pembukaan dilakukan pada pagi hari dengan dihadiri
berbagai pihak, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, kepala sekolah, guru,
siswa, hingga warga setempat. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai bentuk dukungan,
tetapi juga sebagai wujud rasa ingin tahu dan partisipasi terhadap program yang
akan dilaksanakan.
Proses pembukaan
dimulai dengan sambutan dari ketua panitia yang menjelaskan latar belakang pelaksanaan
kegiatan, tujuan yang ingin dicapai, serta manfaat yang diharapkan untuk masyarakat.
Sambutan dilanjutkan oleh perwakilan dosen pembimbing yang menekankan pentingnya
kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam meningkatkan kualitas
pendidikan, kesehatan, dan budaya lokal. Kepala Desa Tanak Beak juga memberikan
sambutan yang menekankan rasa terima kasih kepada tim HIMATIKA Universitas Mataram
dan berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.
Respon warga
terlihat sangat positif. Banyak di antara mereka yang menyatakan rasa senang karena
desanya menjadi lokasi pengabdian mahasiswa, apalagi kegiatan ini mencakup aspek
yang sangat dibutuhkan seperti pendidikan untuk anak-anak, sosialisasi kesehatan,
dan pelestarian budaya. Beberapa warga bahkan langsung menawarkan
bantuan logistik sederhana seperti menyediakan air minum atau membantu menata tempat
kegiatan. Antusiasme ini menunjukkan adanya rasa memiliki yang kuat terhadap program,
yang akan berdampak positif terhadap kelancaran pelaksanaan kegiatan di hari-hari
berikutnya.
Dari sudut pandang
teori pemberdayaan masyarakat, pembukaan ini berfungsi sebagai entry point
atau pintu masuk yang strategis untuk membangun hubungan kemitraan antara pelaksana
program dan masyarakat. Menurut konsep community engagement, kegiatan yang
diawali dengan komunikasi terbuka dan partisipasi aktif akan meningkatkan kepercayaan
(trust building) dan memperbesar peluang keberhasilan program. Dengan memanfaatkan
momentum pembukaan ini, tim HIMATIKA tidak hanya memperkenalkan diri, tetapi juga
membangun pondasi kerja sama yang akan memudahkan koordinasi selama program berlangsung.
2. HIMATIKA Goes
to School (HGTS)
Kegiatan HIMATIKA
Goes to School (HGTS) dilaksanakan di MIN 3 Lombok Tengah dengan sasaran utama
siswa sekolah dasar. Fokus utama kegiatan ini adalah memberikan pembelajaran matematika
secara menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa. Pelaksanaan HGTS dilakukan pada
pagi hari agar siswa berada pada kondisi belajar yang optimal. Tim HIMATIKA mempersiapkan
berbagai media pembelajaran sederhana namun kreatif untuk membantu penyampaian materi.
Metode pembelajaran
yang digunakan dalam HGTS memadukan kuis interaktif, belajar sambil bermain, dan
penjelasan konsep matematika secara sederhana. Misalnya, untuk mengenalkan konsep
perkalian, siswa diajak bermain permainan kelompok yang melibatkan perhitungan cepat.
Selain itu, disisipkan kuis singkat dengan hadiah kecil untuk memotivasi siswa agar
lebih antusias menjawab pertanyaan. Pendekatan ini berhasil menciptakan suasana
belajar yang atidak monoton, sehingga siswa lebih fokus dan berani berpartisipasi.
Respon siswa terhadap
kegiatan ini sangat positif. Mereka terlihat bersemangat mengikuti setiap sesi dan
aktif mengajukan pertanyaan ketika ada konsep yang belum dipahami. Guru di MIN 3
Lombok Tengah juga memberikan apresiasi terhadap metode yang digunakan, karena membantu
siswa memahami materi yang sebelumnya dianggap sulit. Hal ini memperlihatkan bahwa
penyampaian materi dengan pendekatan interaktif dapat meningkatkan motivasi belajar
dan memperkuat pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika.
Secara teoretis,
kegiatan ini sejalan dengan prinsip active learning yang menekankan keterlibatan
langsung siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
berbasis permainan (game-based learning) dapat meningkatkan pemahaman konsep,
kemampuan berpikir kritis, serta rasa percaya diri siswa. HGTS bukan hanya memberikan
manfaat akademis, tetapi juga melatih keterampilan sosial, seperti kerja sama dalam
kelompok dan komunikasi efektif.
3. Taman Literasi
dan Sanggar Seni (TLSS)
Taman Literasi dan
Sanggar Seni merupakan dua kegiatan yang saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas
pendidikan dan pelestarian budaya di Desa Tanak Beak. Taman Literasi dibangun sebagai
ruang baca terbuka yang dapat diakses oleh anak-anak dan warga desa kapan saja.
Koleksi buku yang tersedia meliputi buku cerita anak, buku pelajaran, cerita rakyat,
dan buku pengetahuan umum. Penataan dibuat menarik dengan sekorasi warna-warni dan
rak buku yang mudah dijangkau oleh anak-anak.
Selain Taman Literasi,
Sanggar Seni juga dibentuk sebagai wadah bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan
bakat di bidang seni. Kegiatan seni yang diajarkan meliputi seni tari tradisional,
musik daerah, dan seni rupa. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan melibatkan
pelatih lokal yang memahami teknik dan filosofi seni tersebut. Kegiatan ini memberikan
ruang bagi generasi muda untuk belajar dan melestarikan budaya lokal secara langsung.
Antusiasme warga
terhadap kedua kegiatan ini cukup tinggi. Anak-anak yang sebelumnya jarang membaca
buku mulai menunjukkan minat untuk datang ke Taman Literasi, sedangkan remaja merasa
senang memiliki tempat untuk menyalurkan bakat seni mereka. Keterlibatan orang tua
dalam mendukung anak-anak mereka mengikuti kegiatan juga menjadi faktor penting
dalam keberhasilan program ini.
Dari perspektif
akademik, Taman Literasi sejalan dengan konsep community-based literacy,
di mana fasilitas baca yang dikelola masyarakat dapat meningkatkan kemampuan literasi
dan membangun kebiasaan membaca sejak dini. Sementara itu, Sanggar Seni mendukung
pelestarian budaya yang sering kali terancam oleh modernisasi. Kombinasi keduanya
membentuk keseimbangan antara penguatan kemampuan akademik dan pembinaan karakter
melalui seni dan budaya.
4. Pembelajaran
di TPQ
Kegiatan TPQ dilaksanakan
setiap sore setelah salat Magrib dan diikuti oleh siswa dari berbagai tingkatan
usia. Fokus pembelajaran di TPQ adalah membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an
serta tajwid. Metode yang digunakan adalah pembelajaran bertahap, dimulai dari pengenalan
huruf hijaiyah bagi pemula hingga penguasaan bacaan tartil bagi siswa yang lebih
mahir.
Selain pembelajaran
membaca Al-Qur’an, TPQ juga memberikan pembinaan nilai moral seperti kedisiplinan,
tanggung jawab, dan saling menghargai. Nilai-nilai ini disampaikan melalui cerita
singkat yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat memahami
dan menerapkannya. Kegiatan ini juga membantu mengisi waktu sore anak-anak dengan
aktivitas positif yang bermanfaat bagi perkembangan spiritual mereka.
Respon siswa dan
orang tua terhadap TPQ sangat baik. Siswa menunjukkan kedisiplinan dengan datang
tepat waktu, sedangkan orang tua merasa senang karena anak-anak mereka mendapatkan
pendidikan agama yang terarah. Beberapa orang tua bahkan ikut hadir untuk mengawasi
dan mendukung kegiatan belajar anak mereka di TPQ.
Secara teoretis,
kegiatan TPQ ini mendukung konsep pendidikan karakter berbasis agama. Penelitian
menunjukkan bahwa pendidikan agama yang terstruktur dapat membentuk kepribadian
yang berakhlak mulia, memperkuat kontrol diri, dan mengarahkan perilaku positif
pada anak-anak. Dengan demikian, TPQ tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi
juga pusat pembinaan karakter generasi muda.
5. Sosialisasi Pencegahan
Pernikahan Usia Dini
Sosialisasi pencegahan
pernikahan usia dini dilaksanakan di aula MA Al Ishlah Dasan Agung dengan sasaran
utama siswa-siswi MA Al Ishlah dan warga sekitar. Kegiatan ini bertujuan memberikan
pemahaman yang komprehensif tentang dampak negatif pernikahan dini, baik dari segi
kesehatan fisik dan mental, kelanjutan pendidikan, maupun masa depan ekonomi keluarga.
Pelaksanaan sosialisasi
dilakukan dengan metode presentasi interaktif yang disertai tayangan visual dan
studi kasus nyata. Narasumber memaparkan data statistik tentang angka pernikahan
dini di Indonesia, khususnya di wilayah NTB, serta berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Diskusi terbuka juga dilakukan untuk mengakomodasi pertanyaan dan pengalaman dari
peserta terkait topik ini.
Respon peserta sangat
antusias. Banyak pertanyaan yang diajukan, mulai dari peran orang tua dalam mencegah
pernikahan dini hingga solusi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah dan komunitas.
Hal ini menunjukkan bahwa topik ini relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka
dan menjadi perhatian penting bagi masa depan generasi muda.
Kegiatan ini sejalan
dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa intervensi berbasis edukasi di sekolah
dan komunitas dapat mengurangi angka pernikahan dini secara signifikan. Edukasi
yang dilakukan sejak remaja dinilai efektif karena menyentuh langsung kelompok usia
yang berisiko, sekaligus melibatkan pihak-pihak yang memiliki pengaruh besar dalam
pengambilan keputusan seperti orang tua dan guru.
6. Games
Permainan rakyat dilaksanakan di lapangan depan TK
Desa Tanak Beak dan diikuti oleh anak-anak sekolah dasar serta remaja setempat.
Tujuan utama kegiatan ini adalah menghadirkan keceriaan sekaligus mempererat kebersamaan
antara peserta, mahasiswa, dan masyarakat. Melalui permainan ini, anak-anak dapat
belajar nilai sportivitas, kekompakan, dan semangat juang dengan cara yang menyenangkan.
Jenis permainan yang dilombakan meliputi balap karung
dan beberapa jenis permainan lainnya. Semua permainan ini dipilih karena dekat dengan
kehidupan Masyarakat dan mudah dimainkan. Selain itu, makna edukatif dari setiap
permainan tetap dijaga, seperti melatih kerjasama, melatih kesabaran, serta menumbuhkan
rasa percaya diri.
Antusiasme peserta terlihat dari sorak-sorai dan tawa
mereka selama lomba berlangsung. Anak-anak berlari, melompat, dan berusaha keras
untuk menyelesaikan tantangan dengan penuh semangat. Orang tua dan masyarakat yang
hadir juga turut memberikan dukungan dengan sorakan, menciptakan suasana hangat
dan meriah di sekitar lapangan.
Melalui kegiatan ini, permainan tradisional bukan hanya
menjadi hiburan, tetapi juga media pembelajaran nilai-nilai kebersamaan, kerjasama,
serta sportivitas. Dengan demikian, game HIMATIKA Mengabdi berhasil memberikan pengalaman
bermakna yang menghubungkan generasi muda dengan kearifan lokal sekaligus memperkuat
rasa kekeluargaan dalam masyarakat Desa Tanak Beak
7. Peken Balang
Peken Balang adalah
kegiatan khas Desa Tanak Beak yang berfokus pada penyajian dan penjualan makanan
tradisional khas Lombok. Kegiatan ini menjadi salah satu momen yang paling ditunggu
warga karena menghadirkan beragam kuliner lokal yang sebagian besar disajikan menggunakan
pembungkus daun pisang. Beberapa makanan yang dijual di antaranya adalah nagasari,
lepet, poteng jaje tujak, dan kue-kue tradisional lainnya yang memiliki cita rasa
khas.
Pelaksanaan Peken
Balang berlangsung di area terbuka yang strategis, sehingga mudah diakses oleh warga
dan pengunjung dari desa sekitar. Penjual yang berpartisipasi umumnya adalah ibu-ibu
rumah tangga yang membuat sendiri makanan dagangannya, sehingga kegiatan ini juga
menjadi sarana pemberdayaan ekonomi keluarga. Selain menjual makanan, beberapa pedagang
juga menjelaskan proses pembuatan kuliner tersebut kepada pembeli, sebagai upaya
memperkenalkan resep dan teknik tradisional.
Respon masyarakat
terhadap Peken Balang sangat positif. Warga tidak hanya datang untuk membeli makanan,
tetapi juga memanfaatkannya sebagai kesempatan bersosialisasi dengan tetangga dan
kerabat. Suasana hangat dan akrab membuat kegiatan ini lebih dari sekadar pasar
kuliner, melainkan juga ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Secara teoretis,
Peken Balang dapat dikaitkan dengan konsep pelestarian budaya melalui kuliner lokal.
Menurut kajian heritage gastronomy, makanan tradisional merupakan bagian
dari identitas budaya yang perlu dilestarikan. Dengan adanya kegiatan ini, generasi
muda dapat mengenal makanan khas daerahnya, sementara perekonomian desa mendapat
dorongan dari penjualan kuliner. Keberadaan Peken Balang juga berpotensi menjadi
daya tarik wisata kuliner di masa depan jika dikelola secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Pelaksanaan HIMATIKA
Mengabdi Jilid X di Desa Tanak Beak berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dengan mengintegrasikan aspek pendidikan, kesehatan, dan budaya lokal melalui pendekatan
partisipatif. Setiap kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari pembukaan, HIMATIKA
Goes to School (HGTS), Taman Literasi dan Sanggar Seni (TLSS), pembelajaran
di TPQ, sosialisasi pencegahan pernikahan usia dini, permainan edukatif, hingga
Peken Balang, memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat.
Kegiatan HGTS mampu
meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika melalui
metode interaktif yang menggabungkan kuis dan permainan. Taman Literasi dan Sanggar
Seni menumbuhkan minat baca serta mendorong pelestarian seni tradisional. Pembelajaran
di TPQ memberikan penguatan nilai spiritual dan moral pada generasi muda. Sosialisasi
pencegahan pernikahan usia dini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
menunda usia pernikahan demi masa depan yang lebih baik. Permainan edukatif menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan sekaligus melatih keterampilan sosial, sedangkan
Peken Balang berhasil melestarikan dan mempromosikan kuliner khas Lombok sambil
menggerakkan roda perekonomian desa.
Secara keseluruhan,
keberhasilan program ini didukung oleh partisipasi aktif masyarakat, kolaborasi
antara tim pelaksana dan perangkat desa, serta pemilihan metode yang sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik masyarakat. Pendekatan ini dapat menjadi model pengabdian
masyarakat yang efektif untuk diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan konteks
lokalnya.
Saran
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan,
terdapat beberapa saran yang dapat dijadikan acuan untuk keberlanjutan program serupa
di masa depan. Pertama, kegiatan seperti HGTS sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan
melalui kerja sama dengan sekolah setempat, sehingga metode pembelajaran kreatif
dapat terus diterapkan dan memberikan dampak jangka panjang pada prestasi siswa.
Kedua, Taman Literasi dan Sanggar Seni memerlukan
pengelolaan rutin dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah desa, baik dalam
bentuk perawatan fasilitas maupun penambahan koleksi buku dan peralatan seni. Hal
ini penting untuk menjaga keberlangsungan manfaat yang sudah dirasakan oleh warga.
Ketiga, sosialisasi pencegahan pernikahan
usia dini perlu diperluas cakupannya dengan melibatkan lebih banyak pihak, seperti
organisasi perempuan, lembaga kesehatan, dan tokoh agama, agar pesan yang disampaikan
lebih luas dan efektif.
Keempat, Peken Balang dapat dikembangkan
menjadi agenda rutin yang lebih terstruktur, dengan promosi yang lebih luas agar
menarik minat pengunjung dari luar desa. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya
melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan
bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Naufal, M. A., Awi, A., Ihsan, H., Maulidiyah, A. N., & Putri, A. W.
(2024). Desa literasi: Pengabdian masyarakat melalui pengajaran calistung
pada anak-anak di Desa Bune, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Jurnal
Hasil-Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 3(1), 20–24.
https://journal.unm.ac.id/index.php/JHP2M/article/view/1980
Zallu, D. P., Setiawan, & Muchammad, A. (2025). Membangun literasi
hukum dan pendidikan dalam masyarakat. Dianmas Bhakti: Jurnal Pengabdian
pada Masyarakat.
https://jurnal.upb.ac.id/index.php/dianmasbhakti/article/view/480
Purba, O. N., Sirait, S., Muspita, S., & et al. (2023). Meningkatkan budaya
literasi pada anak-anak desa di era digital melalui pojok literasi di Desa
Pinanggiripan. Comunitaria: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2).
https://jurnal.una.ac.id/index.php/comunitaria/article/view/3836
Rahmawati, L., Sulaeman, M., Cahyono, C., & Setiadi, T. (2025). Community-based
education: Implementation of community service programs in villages. Bisma: Bimbingan Swadaya
Masyarakat, 6(6), 412–425.
https://ejournal.ijshs.org/index.php/bisma/article/view/1171
Zakaria, M., Baiq, N. H., Sujono, H., Tijani, A. J., & Mariad.
(2025). Pengabdian edukatif di Desa Darmasari: Sinergi ilmu, nilai, dan
keteladanan untuk pemberdayaan masyarakat. Al Madani: Jurnal Pengabdian
pada Masyarakat, 4(1), 59–71.
https://jurnal.iaihpancor.ac.id/index.php/jppm/article/view/2325
Karsiningsih, E., Septiani, S., Eka, R., & et al. (2025). Peningkatan
kualitas pendidikan sekolah dasar melalui pengajaran sebagai bentuk pengabdian
di Desa Baskara Bhakti. Jurnal Gembira: Pengabdian kepada Masyarakat.
https://gembirapkm.my.id/index.php/jurnal/article/view/973
Listrianti, F., Santosa, T. A., Yustitia, V., Nasution, B., &
Nugraha, A. R. (2025). Improving the quality of education in rural areas
through community service. eScience Humanity Journal.
Komentar
Posting Komentar